
CODA
CODA bercerita tentang Ruby Rossie, satu-satunya orang dengar di keluarganya. Ayah, Ibu, dan kakak laki-lakinya tuli dan pengguna bahasa isyarat. Ruby sangat diandalkan oleh keluarganya untuk berkomunikasi dengan dunia luar yang didominasi oleh komunikasi verbal. Kedua orang tua dan kakak Ruby hanya bisa menggunakan bahasa isyarat, dan pula tak menggunakan alat bantu dengar. Kakak Ruby sebenarnya bisa membaca bibir, tapi kedua orang tuanya sulit untuk mempercayakan urusan komunikasi dengan orang lain padanya. Pada akhirnya, mereka bertiga sangat tergantung pada Ruby.
Ruby yang beranjak dewasa di sekolah menengah, mulai menemukan bakat dan keinginannya. Begitu juga dengan kehidupan percintaan yang membuatnya ingin memperluas pengalaman dan pergaulannya. Konflik dimulai disini. Selama ini Ruby terlalu berkutat dengan keluarganya sendiri. Mengingat keterbatasan kedua orangtua dan kakaknya dalam berkomunikasi dengan dunia luar. Ruby tidak bisa meninggalkan mereka termasuk karena harus ikut serta dalam kegiatan mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian utama keluarganya. Ia bahkan sempat berpikir ulang apakah harus mengambil kuliah ke luar kota atau tidak. Dengan resiko meninggalkan keluarganya yang memiliki keterbatasan komunikasi dengan dunia luar.
Sebagai orang tua dengan anak tuli, saya bisa mengerti posisi Ruby. Menjadi pendamping difabel memang membuat kita harus nempel terus dengannya dalam jangka waktu yang lama. Seperti yang dikatakan Ruby ketika kesal pada ayahnya, bahwa dia adalah penerjemah gratis untuk orangtua dan kakaknya. Dan masalahnya di sini, si pendamping adalah seorang anak yang masih punya masa depan dan jalan yang panjang dalam hidupnya. Punya banyak potensi dan bakat yang bisa dia kembangkan. Jika saja dia bisa terbang lepas tanpa terus berada di dekat keluarganya. Apa yang dialami Ruby jadi seperti dia terkurung dalam situasi dan takdir yang tidak adil. Ruby menghadapi situasi yang serba salah. Bukan karena orangtuanya tidak menyayanginya. Kedua orangtua Ruby terlalu takut untuk melepas Ruby yang mereka anggap sebagai jembatan antara dunia mereka dan dunia luar.
CODA melihat kisah ini dari sisi hubungan dalam satu keluarga. Bukan tentang perundungan atau pandangan buruk terhadap difabel. Ada, tapi tidak banyak scene yang menampilkan itu. Karena memang fokusnya tidak kesitu. Bully bukan masalah utama di sini. Bukan pula tentang pemilihan cara berkomunikasi orang tuli. Tidak ada scene atau dialog yang menunjukkan bahwa orang dengar menyalahkan tuli karena menggunakan bahasa isyarat atau tidak berbicara.
Masalah yang diangkat di sini justru seakan ingin membangkitkan semangat dan kepercayaan diri orang tuli untuk mulai mempercayai dirinya sendiri, dan orang tuli lain bahwa mereka juga bisa berbaur dengan dunia luar. Batasan antara dunia tuli dan dunia orang dengar bisa didobrak jika semua orang, baik tuli maupun dengar, mau saling bekerja sama dan menerima satu sama lain. Menghapus stigma satu sama lain, baik dari orang dengar ke tuli, maupun sebaliknya.
Bagi orang tuli, berani memulai dengan percaya diri, berbaur dengan dunia luar meski dengan perbedaan mereka, adalah hal pertama yang bisa dilakukan agar mereka bisa mandiri. Memang tidak mudah untuk dilakukan. Butuh keberanian dan kepercayaan diri, juga mempercayai orang lain.
Banyak scene penting dan kunci yang menjadi poin-poin pesan film ini. Salah satunya adalah dialog antara Ruby dan kakaknya, Leo, yang merasa dirinya tidak pernah dipercaya oleh orangtuanya untuk menghadapi dunia luar. Di sini bisa terlihat bahwa kedua orangtua Ruby terlalu tidak percaya diri dengan keadaan mereka sebagai seorang tuli. Mereka terlalu menggantungkan urusannya dengan Ruby karena mereka takut dan tidak percaya diri untuk berbaur dengan dunia luar dengan difabilitas mereka. Berfikir bahwa dunia hanya akan "bekerja" pada orang dengar.
CODA memberi banyak porsi bahasa isyarat dalam filmnya. Ini karena memang tokoh utamanya banyak yang merupakan orang tuli asli, bukan sekedar akting. Jadi akan banyak keheningan dalam film ini ketika bahasa isyarat tampil dalam banyak adegan. Adegan ketika Ruby bernyanyi di pentas seni sekolahnya, juga menciptakan keheningan dari sudut pandang keluarganya. Adegan ini seakan ingin mengajak orang dengar untuk berempati pada mereka yang tidak dapat mendengar. Bahwa seindah apapun suara di luar sana yang bisa kita dengar, orang tuli tidak dapat menikmatinya. Ayah Ruby, Frank, bahkan harus meraba leher Ruby untuk merasakan getaran yang tercipta dari suara Ruby ketika bernyanyi. Ia ingin merasakan seperti apa indahnya suara anaknya yang diceritakan orang-orang. Udahlah saya
.
CODA is such a heartwarming movie yang bisa dengan mudah membuat penontonnya menitikkan air mata. Hubungan antar anggota keluarga yang begitu hangat dan suportif, juga dari teman dan orang sekitar. Mungkin agak utopis, tapi pesan yang disampaikan benar-benar patut untuk dicoba dilakukan. Tidak ada kata terlambat untuk berani memulai hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih baik.
#AcademyAwardsBestPicture2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar