Kamis, 20 Oktober 2022

Review Ngeri-Ngeri Sedap, Film Lokal yang Mengandung Bawang

Poster film Ngeri-Ngeri Sedap
(Sumber : wikipedia.org)


Such a heartwarming story yang mengalir lembut begitu saja, tapi damage nya luar biasa. Dengan cast utama yang hampir semuanya adalah pemain di bidang komedi, kalau nggak nonton trailer atau review nya terlebih dulu, mungkin bakal ngira kalau ini film komedi lucu yang bikin ketawa ketiwi doang.

Nyatanya, sepanjang nonton film ini justru dibikin nangiiisss dan mikir. Bukan, bukan mikir ala film mumet njelimet penuh teka teki gitu. Tapi mikir tentang hidup. Betapa rumitnya hubungan anak dan orang tua, orang tua dan anak. Betapa tidak mudahnya jika kita menempatkan diri sebagai anak ketika menonton film ini, tapi juga mumet kalau kita sudah jadi orang tua. Aku yakin deh, kalaupun kita nggak mengalami apa yang ada di film ini, tapi kita bisa berempati betul pada para karakter di cerita ini.
Bapak Domu dan Mamak Domu punya satu anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Ketiga anak laki-lakinya ini merantau dan tidak kembali ke kampung halamannya di Batak selama bertahun-tahun. Atas nama rindu Mamak yang sudah menggunung, dan ego Bapak yang mau 'menarik' anak-anaknya kembali ke kampung untuk memenuhi keinginannya, merekapun mulai merencanakan sesuatu. Rencana berjalan, anak-anak pulang, namun di sinilah drama keluarga yang menyesakkan jiwa dimulai.
Ngeri-Ngeri Sedap beneran bawain cerita yang sangat dekat dengan kehidupan kita di negara ini. Negara dimana orangnya masih menjunjung tinggi adat, kebiasaan turun temurun, semuanya kayak 'harus' sesuai template. Tapi bagusnya, film ini adil dalam membedah satu demi satu pihak. Baik dari sisi orang tua maupun anak.
Kita nggak akan tega lihat sorot mata Mamak yang diperankan oleh Tika Panggabean ketika membicarakan anak-anaknya yang bahkan sudah 6 tahun tidak ia jumpai. Tapi selalu tidak bisa melakukan apa-apa selain nurut sama kata Bapak.
Bapak Domu, sebagai seorang ayah yang berwatak keras dan dominan, cuma tau perannya hanyalah sebagai pencari nafkah lahir dalam keluarga. Sudah menyekolahkan anak-anak sampai sekolah tinggi, artinya sudah berhasil. Bapak nggak tau kalau ada peran lain yang anak-anaknya dambakan selama ini darinya. Menjadi Bapak yang bisa menjalin komunikasi, ngobrol, diskusi, hingga memberi contoh bagaimana sikap menyayangi satu sama lain antar saudara.
Tapi kitapun nggak akan tega melihat Bapak terpukul dan putus asa ketika anak-anaknya pergi meninggalkannya. Bahkan ada rasa pedih ketika si Sahat (Indra Jegel) lebih nyaman dengan Pak Pomo, bapak kosnya ketika KKN di Jogja.
Di lain sisi, keputusan anak-anak pergi dari keluarga dan kampungnya juga bisa dipahami.
Ngeri-Ngeri Sedap bakal jadi film yang ruwet dan nyesek kalau nggak ada karakter penengah dalam situasi yang nggak mudah seperti itu. Untungnya, mereka kasih karakter Opung yang begitu bijaksana. Opung ini bak embun penyejuk di tengah kekeringan. Karakternya amat tenang, bijak, dan open minded. Satu line nya Opung yang bikin mak clesss waktu Bapak curhat sama dia pasca ditinggal anak-anak dan istrinya, "Kalau anak berkembang, orang tua pun harus berkembang. Jadi orang tua itu nggak ada tamatnya. Harus belajar terus." 🥲.
Iya betul, dialog Opung tadi beneran tepat sasaran. Intinya, jaman itu berubah. Manusia berubah. Maka parentingpun berubah. Apa yang diterapkan kakek kita ke orang tua kita, mungkin sudah tidak bisa lagi diterapkan orang tua kita ke kita. Begitupun seterusnya. Orang tua memang harus terus belajar menjadi orang tua. Dan itu memang tidak mudah. Tapi orangtua yang baik bukan yang mempertahankan egonya, tak mau belajar sama sekali atas nama 'orang tua kan selalu benar'. Jangan. Kalau nggak mau anaknya tertekan atau malah 'kabur'.
Meskipun Ngeri-Ngeri Sedap mengambil latar belakang kehidupan orang Batak, tapi konflik yang terjadi sebenarnya bersifat general. Jadi hal yang terjadi di situ bisa banget dialami suku lain, apapun itu. Begitu juga dengan pesan yang ingin disampaikan. Berlaku untuk siapapun.
Aku bisa bilang Ngeri-Ngeri Sedap ini film yang bagusssss bangettttt. Bener-bener membuka pikiran dan banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sini. Soal teknis macam sinematografi, beberapa scene akan memukau mata penonton dengan pemandangan indah sekitar danau Toba. Pun dengan memasukkan adat atau tradisi dan ritual suku Batak. Soundtrack nya pun diisi dengan lagu-lagu dan musik batak.
Komedinya justru menurutku nggak banyak. Cuma pas scene nya Sahat sama ibu-ibu kondangan itu bikin ngakak banget.
Nontonlah guys Ngeri-Ngeri Sedap. Beneran film Indonesia
terbaik
tahun ini. Kabarnya malah masuk daftar calon nominasi Academy Award. Emang layak, kok. Kabarnya pula, banyak yang kembali ke bioskop buat nonton lagi film ini bareng ortunya. Coba nanti kalian nonton di rumah sama ortu kalian. Awkward awkward tuh 😁.
Sebenarnya masih banyak scene-scene bagus dengan muatan pesan yang kuat yang bisa dibahas. Tapi nanti jadi kebanyakan spoiler buat yang belum nonton. So, tonton sendiri lah, ya. Udah available tuh di Netflix. Selamat menonton dan rasakan sensasinya.
Horas!

Kamis, 30 Juni 2022




CODA

CODA bercerita tentang Ruby Rossie, satu-satunya orang dengar di keluarganya. Ayah, Ibu, dan kakak laki-lakinya tuli dan pengguna bahasa isyarat. Ruby sangat diandalkan oleh keluarganya untuk berkomunikasi dengan dunia luar yang didominasi oleh komunikasi verbal. Kedua orang tua dan kakak Ruby hanya bisa menggunakan bahasa isyarat, dan pula tak menggunakan alat bantu dengar. Kakak Ruby sebenarnya bisa membaca bibir, tapi kedua orang tuanya sulit untuk mempercayakan urusan komunikasi dengan orang lain padanya. Pada akhirnya, mereka bertiga sangat tergantung pada Ruby.
Ruby yang beranjak dewasa di sekolah menengah, mulai menemukan bakat dan keinginannya. Begitu juga dengan kehidupan percintaan yang membuatnya ingin memperluas pengalaman dan pergaulannya. Konflik dimulai disini. Selama ini Ruby terlalu berkutat dengan keluarganya sendiri. Mengingat keterbatasan kedua orangtua dan kakaknya dalam berkomunikasi dengan dunia luar. Ruby tidak bisa meninggalkan mereka termasuk karena harus ikut serta dalam kegiatan mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian utama keluarganya. Ia bahkan sempat berpikir ulang apakah harus mengambil kuliah ke luar kota atau tidak. Dengan resiko meninggalkan keluarganya yang memiliki keterbatasan komunikasi dengan dunia luar.
Sebagai orang tua dengan anak tuli, saya bisa mengerti posisi Ruby. Menjadi pendamping difabel memang membuat kita harus nempel terus dengannya dalam jangka waktu yang lama. Seperti yang dikatakan Ruby ketika kesal pada ayahnya, bahwa dia adalah penerjemah gratis untuk orangtua dan kakaknya. Dan masalahnya di sini, si pendamping adalah seorang anak yang masih punya masa depan dan jalan yang panjang dalam hidupnya. Punya banyak potensi dan bakat yang bisa dia kembangkan. Jika saja dia bisa terbang lepas tanpa terus berada di dekat keluarganya. Apa yang dialami Ruby jadi seperti dia terkurung dalam situasi dan takdir yang tidak adil. Ruby menghadapi situasi yang serba salah. Bukan karena orangtuanya tidak menyayanginya. Kedua orangtua Ruby terlalu takut untuk melepas Ruby yang mereka anggap sebagai jembatan antara dunia mereka dan dunia luar.
CODA melihat kisah ini dari sisi hubungan dalam satu keluarga. Bukan tentang perundungan atau pandangan buruk terhadap difabel. Ada, tapi tidak banyak scene yang menampilkan itu. Karena memang fokusnya tidak kesitu. Bully bukan masalah utama di sini. Bukan pula tentang pemilihan cara berkomunikasi orang tuli. Tidak ada scene atau dialog yang menunjukkan bahwa orang dengar menyalahkan tuli karena menggunakan bahasa isyarat atau tidak berbicara.
Masalah yang diangkat di sini justru seakan ingin membangkitkan semangat dan kepercayaan diri orang tuli untuk mulai mempercayai dirinya sendiri, dan orang tuli lain bahwa mereka juga bisa berbaur dengan dunia luar. Batasan antara dunia tuli dan dunia orang dengar bisa didobrak jika semua orang, baik tuli maupun dengar, mau saling bekerja sama dan menerima satu sama lain. Menghapus stigma satu sama lain, baik dari orang dengar ke tuli, maupun sebaliknya.
Bagi orang tuli, berani memulai dengan percaya diri, berbaur dengan dunia luar meski dengan perbedaan mereka, adalah hal pertama yang bisa dilakukan agar mereka bisa mandiri. Memang tidak mudah untuk dilakukan. Butuh keberanian dan kepercayaan diri, juga mempercayai orang lain.
Banyak scene penting dan kunci yang menjadi poin-poin pesan film ini. Salah satunya adalah dialog antara Ruby dan kakaknya, Leo, yang merasa dirinya tidak pernah dipercaya oleh orangtuanya untuk menghadapi dunia luar. Di sini bisa terlihat bahwa kedua orangtua Ruby terlalu tidak percaya diri dengan keadaan mereka sebagai seorang tuli. Mereka terlalu menggantungkan urusannya dengan Ruby karena mereka takut dan tidak percaya diri untuk berbaur dengan dunia luar dengan difabilitas mereka. Berfikir bahwa dunia hanya akan "bekerja" pada orang dengar.
CODA memberi banyak porsi bahasa isyarat dalam filmnya. Ini karena memang tokoh utamanya banyak yang merupakan orang tuli asli, bukan sekedar akting. Jadi akan banyak keheningan dalam film ini ketika bahasa isyarat tampil dalam banyak adegan. Adegan ketika Ruby bernyanyi di pentas seni sekolahnya, juga menciptakan keheningan dari sudut pandang keluarganya. Adegan ini seakan ingin mengajak orang dengar untuk berempati pada mereka yang tidak dapat mendengar. Bahwa seindah apapun suara di luar sana yang bisa kita dengar, orang tuli tidak dapat menikmatinya. Ayah Ruby, Frank, bahkan harus meraba leher Ruby untuk merasakan getaran yang tercipta dari suara Ruby ketika bernyanyi. Ia ingin merasakan seperti apa indahnya suara anaknya yang diceritakan orang-orang. Udahlah saya 😭.
CODA is such a heartwarming movie yang bisa dengan mudah membuat penontonnya menitikkan air mata. Hubungan antar anggota keluarga yang begitu hangat dan suportif, juga dari teman dan orang sekitar. Mungkin agak utopis, tapi pesan yang disampaikan benar-benar patut untuk dicoba dilakukan. Tidak ada kata terlambat untuk berani memulai hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih baik.
#AcademyAwardsBestPicture2022

DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS

Tajuk Multiverse of Madness agaknya kalah dengan pamor seorang Wanda Maximoff yang lebih gila dari kenyataan multiverse itu sendiri. Belum selesai kegilaan yang mengundang decak kagum semua orang di Wanda Vision, Doctor Strange MoM memberikan fakta-fakta apa saja yang masih bisa dicapai Wanda sebagai penyihir
hebat
di dunia Marvel. Bahkan hingga akhir, film bukan selesai karena Wanda kalah, tapi sadar lalu menghentikan dirinya sendiri. Pokoknya Wanda tetep nomer 1! Stephen Strange, Profesor X, bahkan Dumbledore, kalah!!!
Wanda always steal the show, bukan kalimat yang berlebihan mengingat memang kenyataannya begitu. Kemunculan Wanda di hampir semua film Marvel sangat memukau. Mulai dari pertama kemunculannya di Avengers Age of Ultron, hampir saja bisa mengalahkan Thanos di End Game, lalu di Westview (Wanda Vision) ketika dia menciptakan Hex atau realitas baru buatannya yang sangat menakjubkan.
Saking saktinya, Wanda bisa dibilang over power. Ya gimana nggak over power. Masa bisa gitu banget sih kekuatannya? Wanda itu kan asalnya cuma manusia biasa yang direkayasa genetiknya (CMIIW) sampai akhirnya punya kekuatan super. Ini sama kasusnya kayak si Carol Danvers aka Captain Marvel yang mendapatkan kekuatan super yang luar biasa hanya dari radiasi ledakan mesin alien. Apa yang membuat Wanda mengembangkan kekuatannya lebih jauh adalah tragedi kehilangan bertubi-tubi dalam hidupnya. Dan dari Doctor Strange MoM ini kita jadi tau juga kalau Wanda lebih keras kepala dari seorang Tony Stark.
Semakin gila ketika saya justru nulis banyak hal tentang Wanda duluan di film rekan seprofesinya sesama Avengers, Stephen Strange. Hellooo.. Stephen! Film loe dibajak sama Wanda! 😂 Lha gimana, wong emang nyatanya begitu. Si Stephen di sini tidaklah buruk, tapi menurutku, rada ketutup sama aksinya si Wanda.
Hal yang patut diacungi jempol dan diberi tepukan tangan meriah adalah, bahwa sekuel kedua Dr Strange ini punya formula horor yang beneran horor. Bukan hanya sekedar isapan jempol atau janji-janji manis belaka lewat berita-berita sebelum filmnya rilis. Doctor Strange MoM beneran punya formula horor layaknya film-film horor yang kita tau. Dark tone, scary move, sound effect, production design, jump scare, hingga adegan yang bikin penonton mengumpat "cepet lari gblk! malah bengong ae...", ada di sini! Horor yang selain bikin kaget juga bikin merinding beneran. Mana ada sebelumnya film Marvel begini? Thanks to Sam Raimi!
Dr Strange MoM layaknya Infinity War yang sepanjang film didominasi oleh full action dan perjalanan sang karakter utama untuk mencari sesuatu demi mengalahkan musuh. Meskipun belum maksimal menampilkan segila apa kegilaan multiverse seperti yang menjadi sub judulnya. Pun dengan ketimpangan performa adegan aksi dan dramanya yang kurang greget. Diwarnai pula dengan begitu banyak cameo baik yang sudah kita kenal karena sudah pernah muncul di film Marvel sebelumnya, maupun yang kayaknya, nih, bakal dibikinin filmnya!
Yang paling menarik adalah kemunculan si ***** (sensor) 🤧. Super excited waktu ini orang beneran muncul. Meski akhirnya, kematiannya familiar 😂. Lagi-lagi kalah sama cewek berambut merah 😌.
Bener Dr Strange ini bagus, memuaskan dalam segi aksi dan visual, tapi cukup disayangkan jika seakan-akan Dr Strange harus "ngalah" sama Wanda di sini. Stephen, berakhir sebagai sad boy yang tetep nggak bisa bersatu sama cinta abadinya, di universe manapun. Dan Wanda, kasian banget sih. Nyesek kalo nggagas dia dari jaman Wanda Vision. Asli nyesekkk banget. Ketidakstabilan mental dia kukira sudah berakhir di WV, tapi ternyata justru makin menggila di DS MoM.
Sangat disarankan untuk nonton What If episode Dr Strange (lupa eps berapa), dan Wanda Vision biar lebih tau duduk perkara sesungguhnya film ini. Biar lebih menjiwai dan baper sebaper-bapernya nggagas duo penyihir terkuat di jagat Marvel ini. Kalo nggak nonton, bakal jadi plot hole banget. Nanti malah ngatain filmnya nggak jelas. Tau-tau Wanda punya anak. Kok si itu jadi Captain Amerika? Dan kalau mau lebih mumet lagi, nonton juga Loki. Pengetahuan tentang multiverse ada banyak di sana.

#drstrangemom
#drstrangemultiverseofmadness
#marvel
#marvelmovie


AMBULANCE

Saya nonton ini demi Jack Gyllenhaal, mantan crush saya. Tanpa tau sebelumnya kalau ini film Michael Bay. Sampai masuk 3/4 film baru ngeh, "kok bau-baunya kek film Michael Bay, ya?". Dan setelah dikroscek di Google, ternyata benar. 😌
Ambulance punya cerita yang sederhana, sebuah pembajakan terhadap mobil ambulance yang tengah membawa seorang polisi sekarat akibat tertembak perampok sebuah bank. Yang bajak siapa? Ya si perampok itu sendiri. Diperankan oleh Jake Gyllenhaal dan Yahya Abdul Mateen, chemistry keduanya bagus. Dari pemeran wanita, Michael Bay memasang seorang Ezia Gonzalez, yang saya pikir tadinya itu si Megan Fox.
Untungnya film ini bagus. Dan enak dinikmati. Film kebut-kebutan, kejar-kejaran terbrutal sepanjang masa. Dua jam lebih durasi film, bisa dibilang hampir 90% nya adegan kejar-kejaran. Apa? Fast Furious?! Beuh.. Nggak ada apa-apanya! Kamu bakal sadar kalau selama ini yang dipamerkan di FF dari 1-9 adalah kejar-kejaran cantik, pamer mesin dan rakitan mesin mobil, dan skill dari si pengendaranya. Ambulance ngasih sesuatu yang lebih. Kejar-kejaran brutal sebrutal-brutalnya.
Bukan driver skillful yang nyetirnya keren dan penuh taktik. Tapi driver kepepet yang melarikan diri demi menyelamatkan nyawa dia sendiri dan beberapa orang. Mobil yang dipake juga bukan mobil-mobil merk terkenal dengan body yang mulus dari pabrik atau polesan bengkel. Ini pake ambulance! Iya, sesuai judulnya.
Bayangin mobil ambulance harus ngebut kocar kacir dari kejaran puluhan mobil polisi plus helikopter, pun berkali-kali lolos dari ancaman sniper. Dan di dalamnya ada seorang dengan luka tembak dan darah mengucur deras. Pake adegan pembedahan perut manusia via video call meanwhile ambulancenya tetap ngebut pula. Iyaa.. kalo nggak lebay namanya bukan Michael Bay! Tapi kok sialnya kali ini bagus ya lebaynya.
Mau bilang kalo bertahan nonton sampe akhir karena Jake Gyllenhaal, kok, ya nggak gitu juga. Karena asli filmnya enak dinikmati sampai akhir. Gabungan antara adrenalin yang dipacu tinggi, drama yang tidak terlalu banyak, lalu masuk ke babak akhir keadaan diputarbalik menjadi hopeless. Rasanya juga tidak ada perasaan keberpihakan terhadap sisi manapun. Bukan tipikal film yang mau bilang kalau "penjahat nggak selamanya jahat", bukan, ah! Ambulance memberi visi sama pada kedua sisi. Baik penjahat, maupun polisi.
Film kejar-kejaran brutal, dengan pergerakan kamera yang tak kalah brutal, dan sudah pasti chaos. Cukup bikin pusing kepala dan capek baik mata maupun hati. Eaa.. Iya, loh. Ini film 2 jam full adrenalin gitu, rasanya kayak lamaaa banget nggak sampe-sampe. Dan tenang aja, buat kamu fans nya Michael Bay, kamu bakal tetep dapet adegan andalan sutradara super produktif ini. Adegan khas yang kayaknya ada di banyak filmnya doi. Shot ketika pemerannya jalan dengan gagahnya, slow-mo, sambil disinari matahari dan musik latar penanda kemenangan. Ya gitu,deh.
Tontonlah. Film ini sukses bikin FF terlihat cupu

#ambulance
#jakegyllenhaal
#yayaabdulmateen
#eziagonzalez
#michaelbay